Posted by: megaihyamuis | April 2, 2009

Konsultasi Publik Rencana Penutupan Tambang PTI

Operasi PT Inco di Pulau Sulawesi, khususnya di Sorowako suatu saat pasti akan berakhir. Meskipun saat ini Kontrak Karya PT Inco berlaku sampai 2025 dan kemungkinan masih dapat diperpanjang lagi. Akan tetapi, pemerintah melalui UU Minerba yang baru telah mengharuskan setiap perusahaan tambang melaporkan rencana penutupan tambangnya jauh sebelum masa operasinya berakhir.

Dalam kerangka itulah kami ikut menyaksikan konsultasi publik yang tujuannya untuk meminta pendapat para stakeholder dalam penyusunan dokumen rencana penutupan tambang PT Inco. Turut hadir dalam pertemuan ini pemerintah daerah Luwu Timur, perwakilan masyarakat, tokoh pemuda, dan LSM local serta mine inspector yang menjadi fasilitator.

Sayang, dari pemaparan yang disampaikan lebih banyak membahas hal yang sifatnya fisik dan teknis, seperti pabrik, jalan dan bangunan serta fasilitas perusahaan lainnya akan diapakan. Sementara, hal yang tak kalah pentingnya luput dari poin presentasi adalah persiapan sosial yang perlu dilakukan untuk menyiapkan masyarakat di lingkaran tambang menjadi mandiri. Sebab harus diakui, aktivitas ekonomi masyarakat di sekitar tambang PT Inco masih sangat tergantung dengan keberadaan perusahaan. Lihat saja, meski tidak menjadi karyawan langsung di PT Inco, tetapi banyak unit bisnis yang tumbuh dari permintaan barang dan jasa operasi perusahaan dan kontraktor. Demikian pula untuk memenuhi  keperluan hidup seharí-hari karyawan dan keluarganya, yang memunculkan aneka usaha seperti catering, hotel, transportasi, perdagangan, dll.

Sebenarnya, sebelum ada kewajiban untuk membuat dokumen tersebut, pada 2006 lalu atas inisiatif lintas departemen telah ada diskursus mengenai bagaimana wajah Sorowako baik dari sisi lingkungan maupun masyarakat setelah PT Inco tidak ada lagi. Tindak lanjutnya pada Maret 2007, diadakan workshop bertajuk Soft Landing Mine Closure Scenario atau Skenario Penutupan Tambang dengan menggandeng para ahli dari LIPI, IPB, Unhas, dan pemerintah dan masyarakat lokal.

Workshop selama tiga hari itu mengarahkan pada terwujudnya Sorowako heritage atau warisan sorowako. Dimana seiring dengan berakhirnya Kontrak Karya PT Inco, masyarakat akan mendapati daya dukung dan fungsi lingkungannya pulih dan sekaligus memiliki nilai tambah serta adanya sumber ekonomi baru yang menjadi pengganti aktivitas pertambangan nikel.

Untuk mencapai itu, beberapa program ditawarkan seperti agrosilvopastural atau kombinasi kehutanan dengan kegiatan pertanian-perkebunan dan sekaligus peternakan di lahan pasca tambang PT Inco.

Selain itu, sektor pariwisata perlu didesain agar menjadi penggerak kegiatan perekonomian masyarakat lokal. Salah satu yang direkomendasikan adalah Kebun Raya Sorowako yang nantinya bisa menjadi tujuan wisata. Di sini pengunjung dapat menikmati berbagai flora endemis Sulawesi, taman kupu-kupu, konservasi fauna endemis Sulawesi melalui penangkaran rusa dan anoa, dan wisata eks tambang PT Inco.

Kembali ke pemaparan dalam konsultasi publik tersebut, kiranya hasil workshop seperti yang disebutkan dalam alinea sebelumnya harus menjadi bagian yang tidak terpisah dalam dokumen final rencana tambang PTI yang nantinya akan diserahkan ke pemerintah. Koordinasi internal perlu ditingkatkan, tak penting kepemilikan program ini beralih ke departemen manapun. Yang jelas bahwa kerja bersama untuk mewujudkannya sehingga nantinya Sorowako tidak akan menjadi kota hantu ketika PT Inco hengkang dari sini.


Responses

  1. Artikelnya bagus, mega…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: