Posted by: megaihyamuis | March 25, 2009

Budidaya Ikan Endemis Danau sebagai Ikan Hias, Alternatif Pemanfaatan Danau Matano yang Lestari

Alhamdulliah…diskusi mengenai Upaya Konservasi Danau Matano vs Pengembangan Usaha Produktif di Sektor Perikanan akhirnya terselenggara juga. Terima kasih kepada rekan-rekan Community Relations dan pemerintah kecamatan yang mau mendengarkan kegelisahan kami, sehingga sebelum program usaha perikanan air tawar di Danau Matano benar-benar mereka diluncurkan, perlu sebuah diskusi untuk melihat berbagai sisi dari program tersebut, terutama dari aspek konservasi ikan endemis danau. Dan hari ini diskusi yang melibatkan multistakeholder ini terlaksana di Aula Pertemuan Kantor Camat Nuha.

Forum yang dihadiri oleh Asosiasi Tani Nelayan Luwu Timur, masyarakat Sorowako, BKSDA, Dinas Perikanan dan Kelautan, Bappeda, staf kecamatan Nuha, peneliti, Sorowako Diving Club berlangsung seru. Masyarakat Sorowako bersama dengan Asosiasi Tani Nelayan melihat potensi Danau Matano harus memberikan manfaat ekonomi melalui budidaya ikan air tawar, seperti emas dan nila melalui sistem keramba di danau.

Presentasi Fadly Y Tantu di depan peserta diskusi

Presentasi Fadly Y Tantu di depan peserta diskusi

Sementara itu, Fadly Y Tantu, dosen Fakultas Perikanan Universitas Tadulako Palu menuturkan pandangannya. Selama 10 tahun melakukan penelitian di dalam kompleks Danau Malili, ditemukan kurang lebih 20 jenis ikan introduksi.  Masuknya ikan luar ini antara lain, emas, nila, mujair, louhan, dikhawatirkan akan mengancam keberadaan ikan-ikan asli danau, dengan terjadinya persaingan makanan, predasi, penyakit hingga adanya perubahan habitat. Akibatnya dalam jangka panjang ikan asli diprediksi akan hilang

Hasil survey Pak Fadly menemukan adanya ikan eksotik Oreochromis mossambicus (mujair) yang melakukan aktivitas makan, kawin dan mengerami larva di habitat ikan- ikan endemik. Ada juga ikan lauhan dengan lambung penuh berisi larva ikan dan sisik ikan- diduga yang dimakan adalah larva ikan endemik. Demikian juga salah satu spesies ikan endemis Oryziaz matanensis yang terserang penyakit.  Kenyataan ini adalah indikasi awal adanya dampak dari kehadiran ikan eksotik terhadap ikan endemik di Dalam kompleks danau ini.

Hal lain menurut Pak Fadly yang perlu dipertimbangkan juga bahwa Danau Matano merupakan danau purba yang miskin makanan. Hanya sedikit organisme danau yang bisa jadi makanan ikan. Karena itu, jika membudidayakan ikan seperti emas, nila, mujair pemberian makanan harus terus-menerus. Padahal sisa pakan dan kotoran ikan akan tenggelam di dasar danau dan berpotensi mencemari air danau. Tentu kita tidak ingin kasus di Danau Toba terjadi di Danau Matano, dimana pada beberapa titik perairan tercium bau busuk yang  berasal dari ikan keramba yang mati secara massal (sakit). Beberapa turis bahkan menghindari mandi di danau karena takut kulitnya gatal-gatal akibat pakan ikan yang mencemari air danau. Padahal berenang di danau menjadi salah satu jualan bagi wisatawan di Danau Toba.

Karena itu, Fadly menawarkan model pemanfaatan danau yang memberi nilai ekonomi bagi masyarakat sekitar tanpa merusak ekosistem danau adalah, Pertama: Budidaya ikan dan udang endemis danau menjadi ikan/udang hias. Informasi yang diperoleh  bahwa beberapa spesies ikan dan udang dari kompleks danau Malili ini memiliki nilai jual sekitar 200-an ribu rupiah per ekor untuk dijadikan penghuni akuarium hias di Jepang, Cina, dan Jerman. Tentu saja, jika program budidaya ikan hias ini berjalan, dibutuhkan regulasi dari pemerintah daerah agar nantinya tidak terjadi eksploitasi besar-besar terhadap ikan/udang danau. Kedua, perlu dipikirkan strategi pengembangan ekowisata Danau Matano. Kejernihan air Danau Matano masih menjadi daya tarik bagi pengunjung. Selain aktivitas water recreation, salah satu yang bisa dilakukan, misalnya membuat perahu fiber sebagai fasilitas wisatawan untuk melihat ”tarian kawin” ikan jenis Telmatherina yang sangat menarik. Disamping itu ada pula wisata selam air tawar dan kegiatan underwater photography.

Beberapa spesies udang Danau Matano

Beberapa spesies udang Danau Matano (foto: Boy)

Sementara, dari Bappeda Luwu Timur  menilai perlu segera ditetapkan zonasi peruntukan Danau Matano-kawasan mana yang boleh ada aktivitas dan mana yang menjadi suaka alias tidak boleh ada kegiatan.

Ada banyak PR menunggu dan perlu kerja keras dalam upaya untuk terus mengkampanyekan pelestarian danau di kompleks danau Malili ini sehingga keberadaannya akan dapat dinikmati oleh generasi yang akan datang.


Responses

  1. Salam kenal mas, saya riky, kuliah di perikanan UGM. saya tertarik dengan udang endemik dari danau mantano ini. saya kesulitan membudidayakan udang ini, Nampaknya parameter air danau mantano ini sedikit berbeda dengan parameter air di daerah lain, termasuk di Yogyakata. apakah mas punya data parameter air danau ini? Jika ada bolehkan dishare..

    Salam

    Riky Paskandani

  2. mba keren sekali artikelnya krn memperkaya wawasan pengetahuan saya. Thanks


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: