Posted by: megaihyamuis | March 16, 2009

Baksos Towi

Baru balik dari Kolonodale, Sulawesi Tengah. Bersama rekan-rekan dari Dept. Eksplorasi, Yayasan Pendidikan Sorowako (YPS), dan Rumah Sakit PTI melakukan bakti sosial di Dusun Towi. 

Rombongan berangkat dari Sorowako  pada jum’at 13 Maret, pukul 15.30 wita melewati jalur Nuha. Setiba di Beletele, kami memutuskan mampir dulu ke Warung Wahyu untuk menyicipi kaledo. Kebetulan beberapa orang dalam rombongan penasaran dengan makanan khas Sulawesi Tengah ini. Maka ketika sang pramusaji datang membawa mangkuk mengepul yang berisi sup tulang kaki sapi tsb, spontan seorang guru YPS berujar: ”wow ini sop dinosourus ya..” hahaha…. 

Kami tiba di kota Kolonodale sekitar pukul 20.00. Hujan deras sejak meninggalkan Betelema  menjadi faktor utama keterlambatan laju kendaraan. Dari kota Kolonodale, diperlukan waktu 2 jam-an lagi untuk mencapai camp eksplorasi Labuan Bajo dengan melewati jalan trans sulawesi yang kondisinya cukup memprihatinkan. Tak jarang mobil kami terbatuk-batuk dibuatnya, padahal 4WD  sudah difungsikan sesuai tingkat kerusakan jalan.

Setiba di camp, ternyata temen-temen geologist sudah mengatur alokasi kamar masing-masing. Perfect! Selesai breafing untuk acara besok, kami disilakan untuk istirahat. Sayangnya, malam itu saya tidak bisa terlelap. Entah kenapa. Padahal biasa saya paling seneng berada di camp eksplorasi. Apalagi suara gemericik air sungai yang mengalir tidak jauh dari bilik tempat tidurku serasa soft instrument yang seharusnya bisa membuatku tertidur,ditambah seluruh tubuh rasanya penat sekali.

Akhirnya pagi menjelang. Semua bersiap menuju Dusun Towi, sekitar 7 km dari camp, termasuk kru kontraktor Sawerigading yang membantu kegiatan eksplorasi di sini. Aksi sosial hari ini difokuskan pada bidang pendidikan dan kesehatan. Di dusun Towi inilai-nun jauh dari hiruk pikuk kota Kolonodale, terdapat sebuah ruang belajar yang sangat sederhana. Namanya Kelas jauh SD Tamai Nusi. Karena jarak yang jauh dari Desa Tamai Nusi sebagai desa induknya (sekitar  1 jam perjalanan dg perahu), maka dibuat semacam cabang atau kelas jauh SDN Tamia di Dusun Towi. Disinilah 21 anak usia sekolah dasar  menimba ilmu. Siswa kelas I sebanyak 6 anak, kelas II= 8 orang, dan kelas III sebanyak 7 siswa. 

Kondisi Kelas Jauh Dusun Towi dulu (atas). Ruang belajar baru dengan fasilitas seadanya dibangun pemerintah 2008

Kondisi Kelas Jauh Dusun Towi dulu (atas). Ruang belajar baru dengan fasilitas seadanya dibangun pemerintah 2008

Di tengah fasilitas yang serba terbatas, ternyata tidak memudarkan semangat belajar anak-anak tsb. Terlihat saat mereka ditanyai mengenai cita-citanya, kami dapat mendengar suara latang mereka satu persatu menyatakan ingin jadi polisi, dokter, tentara, pilot, dll. Ibu Julaeha, satu-satunya guru yang mengabdi sejak sekolah ini dibuka pada 2006 lalu punya peran yang sangat besar untuk terus menyemangati siswanya. Dedikasi Ibu Julaeha patut disebut pahlawan tanpa tanda jasa di dusun ini. Bagaimana tidak, sejak awal, ia rela mengajar tanpa dibayar uang. Para orang tua siswanya hanya memberi satu kelapa per murid setiap bulan. Selanjutnya Ibu Julaeha diangkat menjadi guru bantu oleh pemda dengan bayaran Rp100 ribu/bulan. Beruntunglah, dengan kesabaran akhirnya Ibu Julaeha saat ini sudah berstatus PNS. 

Belajar sambil bermain

Belajar sambil bermain

Sabtu pagi itu, suasana yang tadinya lengang berubah menjadi riuh. Nyayian, tepuk tangan, dan tawa mereka memenuhi ruang kelas. Semangat dan kemampuan belajar anak-anak komunitas terpencil ternyata tidak kalah dengan anak-anak sebayanya di kota. Sayang, original DVD film Laskar Pelangi belum release. Padahal kami ingin sekali memutarkan film tersebut.

Sementara di luar kelas, rekan-rekan medis  dari rumah sakit PT Inco melakukan konsultasi dan penyuluhan mengenai gizi dan sanitasi lingkungan bagi 48 KK masyarakat Dusun Towuti yang sebagian besar bermatapencaharian sebagai pekebun, nelayan, dan perambah hutan.

Hampir tidak ada waktu jeda yang terlewatkan bersama mereka, terutama anak-anak itu. Rasa haru memenuhi rongga dada tatkala menyaksikan dua orang anak mendatangi rombongan kami yang bersiap meninggalkan sekolah. ”Pak Guru, besok datang lagi kan?

Pamit

Pamit

Mestinya, keceriaan dan semangat belajar yang ditampakkan anak-anak itu memacu semua pihak terkait untuk menyediakan fasilitas memadai. Masyarakat di dusun Towi ini adalah warga negara yang juga punya hak medapatkan pendidikan yang layak.

Volunteers

Volunteers. Didepan camp ekslorasi Labuan Bajo


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: