Posted by: megaihyamuis | January 2, 2009

Melongok Para Peramu Hutan

Tidak sedikit masyarakat yang masih menggantungkan hidup dari mencari hasil hutan. Hasil hutan bukan kayu seperti rotan, damar, gaharu, dan japalari menjadi sumber penghidupan mereka.

 

Setelah menempuh kurang lebih 1½ jam dari dermaga Timampu, perahu katinting akhirnya membawa kami merapat di sebuah tanjung bernama Mongi. Saat menjejakkan kaki di tempat ini, kami disambut  kawanan kupu-kupu yang sedang asyik menyesap kelembaban tanah pinggiran Danau Towuti.

 

Perjalanan menuju Danau Masapi atau oleh masyarakat lokal lebih dikenal dengan sebutan Tapareng Masapi dilanjutkan dengan menumpangi sebuah truk pengangkut kayu. Padahal, informasi yang kami peroleh sebelum meninggalkan Sorowako bahwa Danau Masapi hanya dapat dijangkau dengan berjalan kaki sejauh 7km. Beruntung sejak Mei 2008 lalu, sudah dibuat jalan yang dapat dilalui truk.

 

Suasana di dalam belantara Mongi tidak sesunyi yang kami kira. Terlihat beberapa orang sedang menjemur potongan kulit kayu yang mengeluarkan aroma harum saat truk kami melewatinya. Di sudut lain, puluhan ikat rotan sedang ditarik. Sementara itu, beberapa orang lagi sedang beristirahat  di tenda-tenda semacam flying camp.

Di sekitar Tapareng  Masapi sendiri terdapat tiga buah flying camp dan satu pondok semi permanen ukuran 3×4 m. Ketika kami tiba, ada 2 orang  yang sedang beraktivitas.”Teman-teman yang lainnya sedang merotan dan majalapari (mencari jalapari-red),” sahut salah seorang dari mereka yang kemudian mengenalkan namanya Sahar.

 

Lelaki asal Sulawesi Tenggara ini melanjutkan memotong-motong batang kayu ukuran lengan orang dewasa. Setiap potongan ukuran rata-rata 40-an centimeter itu dikikis sampai lapisan kulit ari terbuang. Ismail, keponakan Sahar telah siap melanjutkan dengan memukul-mukul potongan tersebut untuk  memudahkan pengupasan lapisan kulit dalam terpisah dari batang kayu. Selanjutnya kulit batang yang disebut jalapari ini akan diambil dan dipotong lagi sepanjang ukuran jari tangan dan siap untuk dikeringkan seperti yang terlihat dipinggir jalan yang kami lalui. Sedangkan batang yang telah dikuliti akan dibuang atau dijadikan kayu bakar.

 

Jika sedang mujur, tiap bulan Sahar  dapat mengumpulkan empat  hingga lima ton kulit jalapari kering. Kulit kayu yang menghasilkan aroma harum ini dibeli dengan harga Rp3.000/kg dan menurut  informasi yang ia dengar akan dikirim ke Surabaya untuk dijadikan salah satu bahan kosmetik. Selain jalapari, hasil hutan non kayu  yang jadi buruan adalah gaharu dan rotan. ”Tapi gaharu sekarang sudah sulit di peroleh di sekitar sini. Makanya saat ini kami lebih banyak mengumpulkan rotan dan jalapari,” ungkap Sahar.

 

Menjelang senja, para peramu lain mulai berdatangan menghuni flying camp. Di dalamnya dibuat seperti polbed untuk tempat istirahat. Mereka masuk ke hutan dalam satu rombongan empat hingga enam orang. ”Rata-rata kami tinggal di hutan 2-3 bulan. Hanya butuh bekal berupa beras dan rokok, imbuh Ismail. Sedangkan kebutuhan lain semisal lauk diperoleh secara cuma-cuma dari Tapareng Masapi karena di danau tersebut banyak Moa atau dalam bahasa setempat disebut Masapi yang tidak ditemukan di Matano, Mahalona, maupun Towuti. Karena kekhasannya maka danau ini dinamakan Masapi. Selain itu, Danau Masapi juga banyak dihuni ikan gabus. Terbukti, kami menyaksikan hasil pancingan mereka pada malam itu berhasil menangkap ikan gabus 40 ekor dalam waktu tidak kurang dari sejam.

 

Sementara itu, dari arah Danau Masapi, seorang laki-laki berusia 68 tahun sedang mengeluarkan dua karung yang berisi damar dari sampannya. Ambe Saring baru saja memanen damar yang letaknya di seberang danau. Ia lebih beruntung dari rekan-rekannya yang lain sebab tidak perlu hidup berpindah-pindah saat hasil hutan di lokasi tersebut telah berkurang. Ambe Saring memiliki puluhan pohon damar yang siap dipanen setiap tahun yang merupakan warisan orang tuanya yang dulu juga pencari damar di daerah itu. Jangka waktu antara pengambilan getah damar dalam satu pohon berkisar 30-40 hari. Hasil panen damar setiap bulan mencapai 2-3 ton damar dan akan dijual ke pedagang pengumpul di Wawondula seharga rata-rata  Rp4500-Rp.5500/kg. ”Yah, lumayan untuk menghidupi anak dan istri,” ungkap ayah tiga anak ini. Akses jalan yang telah terbuka semakin memudahkan pengangkutan hasil hutan. ”Dulu, sebelum ada jalan, butuh waktu dua hari perjalanan untuk memikul karungan damar”, akunya.

 

Hampir seluruh hasil hutan bukan kayu dijual ke pedagang pengumpul di Kecamatan Towuti dan selanjutnya dijual kembali ke pedagang pengumpul besar untuk diteruskan ke pengumpul di Surabaya, Jakarta atau eksporter. Alur perdagangan itu menjadi denyut nadi salah satu aktivitas perekonomian masyarakat di sekitar Danau Towuti.

 

Pemanfaatan yang berkelanjutan

Selama ini perhatian akan kekayaan hutan hanya terfokus pada kayu. Padahal sebenarnya masih banyak sumber daya hutan selain kayu yang mengandung nilai ekonomi, seperti damar, rotan, madu, getah, jalapari, gaharu,dll. Apalagi, kegiatan mencari hasil hutan non kayu tersebut relatif tidak menyebabkan kerusakan hutan karena pola pengumpulan yang berotasi dan berpindah-pindah serta ada yang dipanen secara gradual atau sedikit demi sedikit. Hal ini tentunya sangat berbeda dibandingkan jika yang dieksploitasi adalah kayunya.

 

Melihat potensi hasil hutan non kayu di wilayah ini, perlu dipikirkan untuk meningkatkan nilai tambah ekonomi komoditas sehingga dapat dinikmati oleh penduduk setempat. Antara lain, misalnya dengan memberikan keterampilan di bidang industri kerajinan meubel rotan, UKM ekstraksi hasil hutan, atau jika memungkinkan dapat membuat kebun-kebun budidaya.

 

Sebab pemanfaatan sumber daya hutan dan pelestarian hutan hanya dapat sejalan jika masyarakat yang ada di sekitarnya berdaya dalam arti taraf hidup mereka secara ekonomi meningkat. Seperti harapan Sahar, Ismail, Ambe Saring, dan para peramu hutan lainnya agar kawasan hutan dapat terjaga untuk menopang hidup mereka dan keluarganya hingga puluhan tahun mendatang.

 


Responses

  1. Mencari alamat pembeli kulit kayu jalafari di surabaya…

    • saya beli kulit kayu jalapari

      • Sya dari sulawesi ingin mencari pembeli kulit kayu jalapari,hp:081331442450.
        Stok sya bnyak.trimakasih


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: