Posted by: megaihyamuis | October 31, 2008

Thematic Map of Malili Lakes System (2)

Menikmati Masapi

Menikmati Danau Masapi

Langit cerah tanpa awan. Perahu katinting terus melaju menjauh dari dermaga Timampu, sekitar 30km dari Sorowako. Hari ini, kami bersama tim National Geographic Indonesia (NGI) akan menyambangi Tapareng Masapi.

 

Bagiku, ini adalah perjalanan kali pertama ke danau kecil yang berada dalam kompleks danau-danau Malili. Setelah kurang lebih 1½ jam melintasi Danau Towuti, akhirnya perahu menepi di sebuah tanjung yang kemudian aku ketahui namanya Mongi. Satu per satu barang diturunkan. Ternyata banyak juga barang bawaan kami, terutama ransum. Maklum, karena tim akan nginep di hutan, makanya bekal makanan harus dibanyakin. Jangan sampai kami kelaparan di tengah hutan yang nggak ada siapa-siapa, pikirku saat itu.

 

Menyadari banyaknya barang yang tidak mungkin semuanya bisa terbawa karena jumlah orang yang sedikit, Rio, salah seorang NGO lokal yang menjadi penunjuk jalan berujar,”kalian tunggu di sini ya. Saya mau mencari sopir truk itu. Siapa tahu bisa mengantar kita ke Masapi.” Sebuah truk memang sedang parkir tak jauh dari tempat kami. Dugaan kami truk tersebut adalah pengangkut kayu para illegal logger.

 

Satu jam berlalu. Rio belum juga muncul. Sementara Mas Tantyo Bangun dari NGI masih sedang asyik menjepret aneka warna kupu-kupu cantik yang memang banyak sekali beterbangan di sekitar kami. Tim yang lain berusaha menghabiskan nasi dos. Sebenarnya nasi tersebut buat makan siang, tapi harus dihabiskan demi mengurangi barang bawaan, sekalipun perut masih belum terlalu lapar. Saat itu angka jarum jam masih menunjukkan pukul 10 pagi.

 

Tiba-tiba terdengar suara kendaraan mendekat. Aku berdoa semoga yang datang itu Rio. Benar, tampak di atas truk Rio bersama 4 orang, yang ternyata salah satunya adalah pemilik truk yang sedang parkir  karena rusak.  Dari pengakuannya, ia lari bersembunyi begitu melihat perahu kami mendekat. Rupanya rombongan kami dikira  polisi hutan yang sedang inspeksi. Apalagi informasi dari operator perahu yang kami tumpangi, beberapa minggu sebelumnya ia memang membawa petugas dari kehutanan. Jadi wajar saja kalau kedatangannya kali ini dicurigai membawa tim yang sama.  

 

Ada lagi yang lucu dari cerita si Rio. Saat bertemu dengan sopir truk yang sedang beroperasi, ia cukup lama bisa meyakinkan bahwa tim kami bukan petugas. “Rombongan di bawah itu bukan polisi, tapi dari National Geographic, sambil menunjukkan topi bertulis National Geographic yang kebetulan ia pakai. Itu loh, TV yang ada film binatangnya. Kalian pernah nonton ndak? Mereka mau ke Tapareng Masapi”, kata Rio.  Akhirnya, sopir setuju mengangkut kami dengan syarat truknya harus disewa.

 

Tak apa lah. Di dunia ini mana ada sih yang gratis, apalagi untuk menjalankan truk itu butuh bahan bakar yang harganya tidak murah. Yang penting, kami bisa sampai di target tujuan liputan dan barang bawaan kami bisa terangkut semuanya.

 

Kehadiran truk ini bagai dewa penolong. Jika tidak, kami harus berjalan kaki sejauh kurang lebih 7km. Dengan barang bawaan yang banyak, ditambah kondisi medan yang penuh tanjakan, dan terik matahari yang menyengat bisa -bisa kami kemaleman di jalan. Dengan truk, hanya butuh 40 menit saja kami sudah tiba di Tappareng  Masapi.

 

Suasana di dalam hutan Towuti tidak sesepi yang kuduga sebelumnya. Sepanjang jalan yang kami lewati, tampak beberapa orang peramu hutan dan  flying camp. Lamat-lamat juga terdengar suara raungan mesin chain saw yang mungkin sedang membabat  hutan.

 

Di sekitar Tapareng  Masapi sendiri terdapat tiga flyng camp dan satu pondok kecil rumah panggung milik 12 orang yang mengumpulkan hasil hutan non kayu, semisal rotan, madu, damar, dan kulit kayu jalapari.

 

Sementara tim mendirikan tenda, aku langsung bermain sampan menyusuri tepi Tappareng Masapi. “Akhirnya aku bisa sampai juga di sini,” gumamku dalam hati. Sejak dulu aku ingin sekali berkunjung ke Danau Masapi. Selama ini, aku hanya akrab dengan Danau Matano, Mahalona, dan Towoti. Padahal sebenarnya dalam kompleks Danau Malili masih ada dua danau lagi, salah satunya adalah Masapi.

 

Tapareng Masapi atau Danau Masapi memang tidak sebesar Danau Matano, Mahalona, dan Towuti. Luasnya hanya sekitar 243 Ha. Namun, dari hasil penelitian, biota yang mendiami kompleks danau-danau Malili berbeda antara danau yang satu dengan lainnya. Yang khas dari Danau Masapi adalah ikan Moa atau dalam bahasa lokal disebut Masapi (mirip belut). Karena itu pula danau ini dinamakan Masapi. Selain itu, danau ini juga dihuni banyak ikan gabus. Terbukti, hasil pancingan kurang dari sejam berhasil menangkap ikan gabung 40 ekor. Wah!

 

Saat makan malam, ikan gabus bakar menjadi lauk terlaris di tenda kami. Rasanya empuk sekali. Ayam goreng dan sarden yang kami bawa dari Sorowako justru tidak tersentuh. Malahan minta dioper saja ke camp para peramu yang bersebelahan denga tenda kami untuk dituker dengan ikan gabus.  

 

Sudah lama juga aku tidak merasakan berkemah di alam bebas. Suasana seperti ini terakhir aku nikmati 10 tahun silam dalam kegiatan pramuka saat masih di bangku SMU. Sungguh menyenangkan, damai berada dalam dekapan alam. Tidak ada bunyi krang kring telpon. Yang ada hanya suara jengrik yang saling bersahutan. I love my job. Suatu saat bisa membawaku berada di hotel berbintang seperti kemarin hingga tiga hari yang lalu, tapi di kesempatan lain aku juga bisa berada di tengah belantara seperti sekarang. Suatu saat aku larut dalam obrolan dengan mereka yang berdasi, namun di saat tertentu aku bisa menyelami hidup orang-orang biasa, seperti para peramu hutan. Aku suka kedinamisan ini!

 

Tenda Kami

Tenda Kami


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: