Posted by: megaihyamuis | October 19, 2008

People of Malili, Spirit for Better Living

Shooting film dokumenter bertema pemberdayaan masyarakat pesisir akhirnya selesai. Cukup melelahkan setelah lebih dari 5 hari kami berada di daerah pesisir yang dijangkau 1,5 jam dari kota Malili dengan perahu tradisional. Harus diakui, proses pembuatan film ini memang terkesan agak terburu-buru karena kejar tayang untuk melengkapi presentasi dalam acara International seaweed Forom yang berlangsung 27-30 Oktober di Makassar

 

Film yang memotret pergulatan masyarakat pesisir di Kecamatan Malili untuk meningkatkan taraf hidup mereka mengambil setting di areal tambak dan pinggiran Sungai Malili. Adakah kenyataan bahwa kehidupan masyarakat yang mendiami wilayah pesisir Indonesia selalu diidentikkan dengan kemiskinan.

 

Tak terkecuali masyarakat pesisir Malili, ibukota kabupaten Luwu Timur. Hasil profiling terhadap tujuh desa pesisir di Kecamatan Malili yang dilakukan oleh Destructive Fishing Watch (DFW) Indonesia pada awal 2007 lalu menunjukkan 34,73% masyarakat masuk dalam ketegori miskin, 500 anak usia sekolah tidak dapat bersekolah, dan 216 penduduk usia 15-24 tahun buta aksara.

 

Ironis, padahal wilayah ini memiliki potensi sumber daya perikanan dan kelautan yang melimpah. Letaknya yang berada di pesisir barat hingga ke timur Teluk Bone dengan garis panjang pantai  ±118 Km,  menjadikannya sebagai kabupaten dengan garis pantai terpanjang di Sulawesi Selatan.

 

Untuk membantu masyarakat pesisir di Malili mengoptimalkan pengelolaan SDA tersebut agar kehidupan mereka menjadi lebih baik, program pemberdayaan masyarakat PT Inco mencoba ikut mengambil peran. Agenda utamanya meningkatan pendapatan mereka.  Pengalaman Alimuddin-petani tambak yang menjadi tokoh utama dalam film ini- mengisahakan kegagalan yang terus menerus selama puluhan tahun dalam mengusahakan udang di tambaknya.

 

Kepada Alimuddin dan kelompok petani tambak lainnya di Malili kemudian diperkenalkan dengan rumput laut jenis gracilaria sp. Pilihan pada komoditas ini karena memiliki kelebihan terutama pada sistem budidayakan secara polikultur. Artinya dapat dibudidayakan bersamaan dengan udang dan ikan bandeng, sehingga dalam satu tambak petani dapat mengembangkan tiga komoditas sekaligus.

 

Bimbingan teknis dan pendampingan, bantuan modal secara bergulir, serta peningkatan kapasitas kelompok tani melalui pelatihan proses budidaya rumput laut, pemeliharaan, manajemen panen hingga pasca panen menjadi hal yang sangat mereka butuhkan. Para petani juga diajak dalam studi banding ke daerah lain yang berhasil dalam mengembangkan rumput laut.

 

Tidak hanya itu, untuk memperbaiki harga komoditas, PT Inco membuka jaringan pasar sehingga petani memperoleh manfaat lebih besar melalui kerjasama perdagangan langsung dengan pabrik pengolahan rumput laut. Sebelumnya, banyak broker/pedagang perantara dalam rantai pemasaran yang mempengaruhi harga rumput laut.

 

Dari mekanisme pasar yang sudah diperbaiki ini, petani bisa mengambil keuntungan berlipat ganda.  Kalau sebelumnya harga untuk rumput laut jenis Gracilaria sp. hanya berkisar Rp.1200-1800/kg, sekarang sudah naik menjadi Rp3000/kg. Penghasilan dari 80 orang yang menjadi kelompok dampingan saat telah ini meningkat  dua kali lipat.

 

Rumput laut kini menjadi primadona baru bagi petani tambak di Kecamatan Malili, bahkan keberhasilan ini juga telah menginspirasi petani lain yang berada di luar wilayah pemberdayaan masyarakat PT Inco.

 

Namun, pada shooting hari ke-3, tiba-tiba perahu yang kami tumpangi kandas akibat pendangkalan sungai. Inilah salah satu akibat dari makin berkurangnya tanaman mangrove di sepanjang sungai. Banyak hutan mangrove yang dikonversi menjadi lahan tambak. Padahal tahun lalu, lokasi yang sering kami lewati ketika menuju dive site favorit kami di sebuah pulau ini masih menyajikan pemandangan hamparan vegetasi mangrove yang menghijau.

 

Dalam diskusi dengan tim, menurutku fakta ini bisa dijadikan konflik dalam film: antara kepentingan ekonomi versus konservasi lingkungan.

 

Film ini harus membawa pesan bahwa program pemberdayaan masyarakat di pesisir tidak berarti harus menghilangkan hutan mangrove di sekitarnya. Peningkatan produksi hendaknya ditempuh melalui peningkatan produktivitas per hektar, bukan dengan cara ekstensifikasi lahan. Sementara itu, eksploitasi manfaat ekonomi dari keberadaan hutan magrove dapat dilakukan dengan pemeliharaan atau pembesaran kepiting bakau dalam kurungan tanpa harus menebang vegetasi mangrove.

 

Kami sadar, mewujudkan impian Alimuddin dan masyarakat pesisir lainnya untuk mengubah nasib, tidak semudah yang kami bayangkan. Alam pesisir Malili yang indah dan kaya ini, perlu tangan-tangan yang mau bekerja keras dan belajar memanfaatkan apa yang telah diberikan Tuhan kepada mereka sembari tetap mengindahkan kelestaraian alam.

 

Perlu sinergi dan kemitraan dengan semua pihak agar harapan yang telah mereka rintis dapat berhasil.  Namun yang terpenting adalah kesadaran bahwa untuk mengubah kehidupan menjadi lebih sejahtera dibutuhkan kesabaran, ketekunan, dan keterampilan untuk mengolah dengan bijak potensi alam itu.

  

 

interview dengan Kadis Perikanan dan Kelautan Lutim

Salah satu scene: interview dengan Kadis Perikanan dan Kelautan Lutim

 

Mas Hendro Pramoe (Cameramen); M.Noor (Cameramen);Laguna (Line Supv.); Mega (Produser); Abe (Asst.)

Kiri-kanan: Mas Hendro Pramoe (Cameramen); M.Noor (Cameramen);Laguna (Line Supv.); Mega (Produser); Abe (Asst.)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: