Posted by: megaihyamuis | September 24, 2008

Menyulap Air jadi Listrik

Para geologist PT Inco di Laborino, Sulawesi Tenggara tidak hanya piawai dalam mengeksplorasi cadangan mineral di dalam tanah, namun mereka juga sukses menciptakan listrik sendiri yang bersumber dari aliran sungai. Melalui pembangkit mikro hidro, listrik yang dihasilkan mampu menyuplai kebutuhan camp eksplorasi dan sebagian lagi dibagikan ke masyarakat sekitar.

 

Power House Mikro Hidro Laburino

Power House Mikro Hidro Laburino

Laburino hanyalah sebuah dusun kecil di Kabupaten Kolaka Utara- Propinsi Sulawesi Tenggara, sekitar 3 jam perjalanan dari Sorowako. Sepintas, tak ada yang menarik perhatian saya di tempat ini, kecuali pemandangan pesisir Teluk Bone yang tenang nan damai.

 

Namun, gemerlap cahaya yang terang benderang di rembang petang itu menggoda saya untuk menyusuri perkampungan tersebut. Tampak rumah-rumah panggung bermandi cahaya laiknya di kota. Sinar lampunya terang sehingga bisa menerangi pekarangan rumah tetangga lainnya.

 

Sudah lebih dari empat bulan ini, 22 kepala keluarga yang bermukim di Dusun Laburino menikmati listrik gratis yang dihasilkan dari pembangkit mikro hidro.

 

Di tepian Sungai Laburino, dibuatlah galengan untuk membelokkan air. Melalui galengan selebar satu meter, air dialirkan sepanjang 128 meter dan ditampung di sebuah kolam. Dari dasar kolam, air meluncur memutar kincir yang ada pada turbin, yang kemudian menggerakkan generator. Air bergabung kembali dengan aliran Sungai Laburino.

 

Hasilnya, daya listrik sebesar 1300 watt dapat dihasilkan dari pembangkit ini. Meski baru 20 persen dari yang direncanakan, tetapi itu sudah mampu menerangi camp.

 

Saat ini, tim mikro hidro berupaya memaksimalkan daya agar listrik yang dihasilkan dapat dinikmati juga oleh masyarakat sekitar camp. Dari perhitungan, kondisi minimum debit air dapat menghasilkan daya 3500 watt, sedangkan kemampuan maksimalnya mencapai 5000 watt.

 

Bagi tim eksplorasi di Latao, listrik yang dihasilkan dari mikro hidro ini praktis mengurangi konsumsi bahan bakar minyak (BBM). Menurut Andy Sutrisno, salah seorang geologis, penghematan mencapai kurang lebih 5 liter solar per-malam. “Hanya repeater saja yang masih disubsidi 2,5 liter solar setiap malam, berhubung kabel instalasi listrik mikro hidro belum sampai karena jarak yang lumayan jauh. Ke depan kita usahakan tidak ada pengeluaran BBM sama sekali,” ujar Andy.

 

Sementara bagi masyarakat lokal yang berada di sekitar camp eksplorasi, keberadaan mikro hidro tersebut sangat menggembirakan, karena sebelumnya, ketika masih menggunakan mesin genset, lampu hanya bisa menyala dari pukul 6 sore sampai pukul 10 malam. Dengan mikro hidro, mereka bisa menikmati penerangan selama 24 jam.

 

Keberhasilan tim eksplorasi Latao dalam swadaya energi telah memercikkan inspirasi hingga melampaui batas-batas wilayah eksplorasi PT Inco lainnya. Beberapa lokasi yang memiliki potensi air tertarik menerapkan teknologi mikro hidro tersebut. Murah dan ramah lingkungan,alias tidak menyisakan polusi.

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: